Pages

REOG DIAKUI MALAYSIA

Kamis, 17 Februari 2011 0 komentar

Akhir-akhir ini sangat gencar pemberitaan kontroversi mengenai tentang diakuinya Reog sebagai salah satu aset budaya Malaysia. Pihak Malaysia yang jelas-jelas menampilkan sebagian tarian  Reog, berupa tarian Singa Barong dengan plat MALAYSIA di atas kepala Barong / dadak merak.
Banyak rakyatpun geram dan gencar memprotes dan menuntut pengembalian Reog dan atributnya sebagai asli milik bangsa Indonesia dan masyarakat Ponorogo khususnya. Malaysia boleh menampilkan Reog asal tidak boleh ada label Malaysia didalamnya.
Terlepas dari kontroversi diatas, saya mencoba mencari sisi positifnya dari peristiwa tersebut. Yakni :
  1. Peristiwa tersebut kembali menyentakkan Pemerintah dan Rakyat Indonesia untuk serius melindungi aset-aset budayanya. Rakyat dan pemerintah harus mau bekerja sama untuk mengupayakan melindungi kekayaan Seni Budaya yang tak ternilai.
  2. Kontroversi Reog Malaysia menjadi momen untuk mengingatkan kita untuk lebih peduli akan budaya kita yang sudah lama kurang perhatian . Kita sekarang mulai menggali, mengingat-ingat budaya kita sendiri-sendiri dari masing-masing suku dan sub suku. Bahwa kita punya kekayaan budaya yang patut dilindungi, kalau tak mau lagi diambil negara lain. Jangan salahkan mereka mengambil jika kita tidak ikut peduli pada budaya kita.
  3. Ramainya pemberitaan Reog, bisa menarik perhatian dunia tentang kekayaan budaya Indonesia. Masyarakat luar mulai tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang Reog. Semula mereka hanya sekilas tahu, maka sekarang mereka sibuk mencari berita tentang Reog tersebut. Contohnya rekan mbak Ukirsari yang orang asing dan kebetulan mengambil study di Jatim, rela untuk menelusuri Reog langsung dari asalnya serta mengabadikan untuk disebar luaskan fotonya termasuk di wikimu ini. Nah bukankah ini bisa menjadi promosi besar buat kesenian Reog itu sendiri.
Saya sendiri salut atas bersatunya kita dari segala lapisan untuk menuntut Malaysia mencabut pernyataannya tersebut. Apalagi lebih keras tuntuan dan teriakan kita, setelah diakusisisnya: Lagu rasa sayange, Batik, Gamelan sebagai aset-aset seni budaya mereka. Bahkan sampai terjadi serangan I.T, demo ribuan Warok di Kedubes Malaysia dan aksi lainnya. Sayangnya kenapa kita bersatu kalau ada momen seperti ini. Coba diaplikasikan selalu untuk sama-sama berjuang membangun bangsa.
Lagi-lagi kontroversi dari negara yang kayaknya sudah tidak layak lagi menjadi tetangga yang baik dan terlihat beberapa kejadian, mulai dari penganeksasian pulau kita (Sipadan dan ligitan, terakhir pulau Ambalat juga pengen diembat juga), perlakuan tidak manusiawi terhadap para pekerja kita, pemukulan sewenang-wenang ketua tim wasit saat ada musyawarah KL dan lagi-lagi jiwa Inggerisnya keluar dengan claim yang tidak beradab terhadap budaya kita seperti terhadap musik angklung (Khas sunda) dan terakhir claim terhadap Reog Ponorogo yang jelas menyulut kebencian betapa negeri mini terlihat tambah arogan saja. Kata teman si Aa mah : "Ganti aja jangan malaysia, Malingsia!"

CHAPETANG'S - Menurut teman-teman sikap khas kolonialis ini memang nampak biasa seperti dengan merasakan kemakmuran yang luar biasa sehingga dengan tingkat ekonomi yang cukup tinggi dengan luas negara yang kecil bila dibanding dengan indonesia, hal lain dimotivasi oleh rasa takut berlebihan terhadap dominasi para pendatang dari Indonesia yang semakin lama semakin banyak mungkin suatu waktu jadi permasalahan rasial dengan sebutan pendatang haram yang terus tidak bisa dibendung, secara ekonomi sebenarnya sangat membantu untuk menanggulangi kebutuhan pekerja kasar di Malaysia yang tidak bisa diberikan kepada orang asli mereka yang sudah mulai baik hidupnya.

Dominasi pekerja ini secara perlahan berubah setelah generasi kedua orang Indonesia yang perlahan lebih baik, pendidikan dan pemahamannya jauh lebih baik bahkan plus pernikahan dengan masyarakat setempat jelas akan berpengaruh terhadap akulturasi dan suatu waktu sulit diketahui mana penduduk asli mereka karena orang indonesia sudah mulai masuk level pekerjaan yang jauh lebih baik dari orang tua mereka yang sebelumnya hanya buruh kasar dan pedagang kecil saja.

jelas ini sangat mengancam keorisinilan negeri yang merasa paling hebat, tapi kita harus menanggapi permasalahan ini dengan hati dan kedewasaan, tapi pemerintah jangan diam saja dan bisa membuat geram masyarakat kita Perlu ada langkah diplomatik yang konkret oleh pemerintah Republik Indonesia (RI), untuk menindak lanjuti kasus demo massa warok (seniman reog) terhadap Malaysia. Sehingga ada penegasan yuridis terhadap sikap Malaysia yang tidak mengklaim reog sebagai keseniannya.
Di sisi lain, secara internal, masyarakat dan bangsa Indonesia harus lebih mencintai dan 'nguri-uri' (melestarikan) kesenian tradisionalnya. Sebelum kemudian berkembang kasus kesenian bangsa Indonesia mati di negeri sendiri, tapi ironisnya kemudian diklaim oleh negara manca karena seni tradisinya itu dikembangtumbuhkan di luar negeri.
Pendapat ini, Jumat (30/11), dikemukakan oleh budayawan Jawa, Pranoto, menanggapi keberhasilan aksi demo massa warok ke Kedubes Malaysia, menyangkut protes soal klaim reog oleh negeri Jiran.
Pranoto, budayawan pemegang anugerah bintang budaya yang juga abdi dalem Keraton Surakarta bergelar Kanjeng Raden Ario (KRA) Prodjodiningrat ini, mengatakan, pemerintah RI harus segera merespon masalah ini, untuk menindaklanjuti melalui jalur diplomatik antarnegara.
''Langkah ini, sekaligus akan menunjukkan betapa pemerintah RI juga ikut melindungi eksistensi potensi kesenian tradisional rakyatnya yang tumbuh di Nusantara,'' katanya.
Tak ada artinya massa warok demo, manakala pemerintah RI malah menutup mata. Ketua Pagyuban Reog Indonesia (KRI) H Begug Poernomosidi, menyatakan, bersamaan aksi demo massa warok ke Kedubes Malaysia itu, pihaknya telah pula mendesak Menteri Pariwisata dan Menteri Luar Negeri, untuk atas nama pemerintah RI, segera melakukan kontak dan menindaklanjuti kasus klaim reog ini, ke negara Malaysia.
Begug yang menyandang predikat sebagai ketua warok Indonesia bergelar Kanjeng Pangeran (KP)Candra Kusuma Ki Ageng Andana Warih, menyatakan lega ketika Dubes Malaysia untuk Indonesia, Dato Zainal Abidin Zain, menegaskan kalau kerajaan Malaysia tidak mengklaim reog sebagai keseniannya.
Meski kesenian asal Ponorogo Jatim itu, sejak 150 tahun lalu dinyatakan telah tumbuh dan eksis di Johor dan Selangor Malaysia.
Menyikapi ini, Begug, menyatakan, keberadaan reog di Malaysia itu bisa jadi telah ada sejak lama, mengingat Malaysia dulunya menjadi wilayah kerajaan Majapahit. Persoalannya sekarang, boleh saja reog tetap eksis dan dikembangkan di negeri Jiran, asal tidak kemudian diklaim sebagai kesenian tradisional Malaysia.
Sebagaimana warga Tionghoa yang ada di Indonesia mengembangkan Liong Barongsai, tanpa harus mengklaim kesenian asal daratan China itu sebagai kesenian Indonesia. Tegas dong pak Menlu?

Musik keroncong di akui malaysia

0 komentar

Anda peminat dan penikmat musik keroncong? Bagi anda penikmat musik keroncong, sudah jamak rasanya kalau telinga Anda dimanja dengan sajian-sajian lagu keroncong di tanah air. Tapi, pernahkah Anda membayangkan dapat menikmati musik keroncong secara khusus di negeri orang? Setiap hari lagi.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Johor, Malaysia ini, saya diberitahu oleh seorang kawan bahwa salah satu stasiun radio di Johor (konon kabarnya milik keluarga Sultan Johor) pada setiap malam dari jam 22.00 hingga jam 02.00 dinihari selalu menyajikan acara musik keroncong. Mulai dari keroncong asli maupun yang kombinasi (pop yang dikeroncongkan), dari lagu-lagu lama maupun baru, dari yang dinyanyikan penyanyi lama ataupun baru, dari Keroncong Kemayoran hingga Dinda Bestari, selama empat jam akan selalu mengudara. Adalah Johor Best 104 FM, radio yang setiap malam mengudarakannya.Menurut mbah Wiki, Keroncong adalah sejenis musik Indonesia yang memiliki hubungan historis dengan sejenis musik Portugis yang dikenal sebagai fado. Sejarah keroncong di Indonesia dapat ditarik hingga akhir abad ke-16, di saat kekuatan Portugis mulai melemah di Nusantara. Keroncong berawal dari musik yang dimainkan para budak dan opsir Portugis dari daratan India (Goa) serta Maluku.Malaysia, khususnya Negeri Melaka yang pernah dijajah Portugis, kemungkinan juga memiliki khasanah musik keroncong yang mungkin sama.
Bahkan kabarnya Malaysia pun mulai mengembangkan musik keroncong ini, yang menurut kata pengantar di acara musik keroncongnya Best 104, diakui sebagai karya seni Nusantara. Namun kalau saya menyimak
lagu-lagu keroncong yang diputar di Radio Best 104 tersebut, rasa-rasanya, semuanya adalah lagu-lagu karya anak bangsa Indonesia. Saya sampai penasaran, yang mana lagu keroncong aslinya Malaysia. Selama dua setengah tahun telinga saya dimanja dengan musik keroncong di negeri jiran ini, timbul pertanyaan dalam hati, bagaimana ya perkembangan musik keroncong di Tanah Air? Timbul kekhawatiran juga kalau-kalau musik keroncong di Indonesia akan mati dan hanya tinggal menjadi barang museum musik nasional kita. Sedangkan di Johor, tampaknya di-uri-uri oleh Sultan.Namun ternyata kekhawatiran itu sirna dengan sendirinya, manakala secara tak sengaja dari browsing dan searching dengan keyword keroncong, saya menemukan jawabannya di tulisan sdr. Danny Baskara.Semoga keberlanjutan musik keroncong yang berkembang dengan ciri khas tersendiri di Indonesia ini, tetap menjadi made in Indonesia dan dikagumi dunia internasional.
 
jiran malaysia © 2011 | Designed by Bingo Cash, in collaboration with Modern Warfare 3, VPS Hosting and Compare Web Hosting